Negara Tetangga Tambah Kaya Gegara AI, Indonesia Gimana?

Negara Tetangga Tambah Kaya Gegara AI, Indonesia Gimana?

Saat Singapura panen investasi miliaran dolar dari industri chip AI, bagaimana nasib Indonesia? Intip langkah pemerintah mengejar potensi ekonomi AI yang diproyeksikan tembus Rp5.700 triliun pada 2030.

Negara Tetangga Tambah Kaya Gegara AI, Indonesia Gimana?

Negara tetangga Singapura tengah berlari kencang memanfaatkan ledakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendongkrak industri semikonduktor dan menciptakan lapangan kerja baru sebelum tren global melambat. Di tengah agresivitas negeri jiran tersebut, pemerintah Indonesia juga mulai menyiapkan langkah strategis agar tidak sekadar menjadi penonton dan pasar dari revolusi teknologi ini.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong sebelumnya mengungkapkan di ajang Forbes Global CEO Conference bahwa perekonomian negaranya mampu tumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2026, yang sebagian besar ditopang oleh tingginya permintaan terkait AI. Raksasa chip asal Amerika Serikat seperti GlobalFoundries dan Micron Technology bahkan telah menggelontorkan miliaran dolar ke Singapura demi mengamankan rantai pasok chip memori khusus AI.

"Tidak ada booming bertahan selamanya. Pada titik tertentu, akan terjadi koreksi. Karena itu, pendekatan kami saat ini adalah memanfaatkan celah peluang yang ada dengan sebaik-baiknya, di mana terdapat permintaan eksternal, mengkapitalisasinya, membangun berbagai kemampuan baru, dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik," ungkap Wong, dikutip dari Channel News Asia.

Lantas, bagaimana dengan posisi Indonesia di tengah perlombaan teknologi ini? Pemerintah Indonesia rupanya membidik peluang investasi di sektor kecerdasan buatan senilai USD 12 miliar atau setara Rp 216,79 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan AI bakal menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Tanah Air ke depannya.

Baca juga:
Peringkat Terbaru Internet Indonesia, Kalah dari Mayoritas ASEAN

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyebutkan bahwa potensi kontribusi AI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diproyeksikan mampu menembus angka USD 366 miliar (sekitar Rp 5.700 triliun) pada tahun 2030. Besarnya angka ini didorong oleh jumlah populasi usia produktif serta masifnya penetrasi pengguna internet di dalam negeri.

"Jadi memang angkanya cukup besar, terutama posisi Indonesia yang menyumbang hampir 40% (potensinya di kawasan)," kata Nezar dalam acara GRACS 2026 Digital Trust in Motion: Securing the Intelligent Ecosystem di Jakarta, dikutip dari Marketeers.

Untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur dari negara tetangga, pemerintah gencar melakukan penjajakan dengan berbagai raksasa teknologi dunia. Selain mendorong penguatan industri pusat data (data center) nasional lewat investasi baru termasuk rencana dari Danantara, Menko Airlangga juga telah menjalin komunikasi dengan raksasa teknologi Tiongkok seperti Huawei dan ByteDance untuk memperkuat ekosistem AI di Indonesia.

Riset terbaru Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tahun 2026 mencatat bahwa sekitar 65% masyarakat Indonesia sebenarnya sudah aktif menggunakan teknologi AI untuk mencari informasi, menyelesaikan pekerjaan, hingga bertransaksi. Sayangnya, tingginya angka adopsi ini masih didominasi oleh peran masyarakat sebagai konsumen, bukan pencipta teknologi.

Setali tiga uang dengan kekhawatiran Singapura soal pergeseran lapangan kerja, masuknya investasi AI di Indonesia juga menuntut kesiapan talenta digital. Sejumlah pekerjaan administratif mulai terotomatisasi, sementara kebutuhan akan profesi baru seperti AI engineer, analis data, hingga spesialis keamanan siber kian mendesak. Pemerintah pun mulai menginisiasi jaringan inovasi seperti Garuda Spark Innovation Hub agar pengembangan talenta tidak hanya terpusat di kota-kota besar.

Selain mengejar kesiapan infrastruktur dan keterampilan SDM, Nezar mengingatkan bahwa besarnya potensi ekonomi AI di Indonesia juga dibarengi dengan risiko keamanan siber yang serius, mulai dari kebocoran data pribadi hingga maraknya kejahatan manipulasi deepfake bermotif keuangan.

"Deepfake ini kadang-kadang bisa mengelak dari jeratan hukum. Sehingga regulasi harus bisa menjangkau hal-hal yang baru," tegas Nezar, senada dengan seruan global mengenai pentingnya tata kelola dan pengamanan sistem AI yang makin canggih.


Sumber Referensi Artikel:

  • Kompas.com: Indonesia Bidik Investasi AI hingga Rp 216 Triliun, Ini Strateginya (Oktober 2026)
  • Tirto.id: Wamenkomdigi: Kontribusi AI terhadap PDB Capai 366 M US$ (Agustus 2026)
  • Marketeers: AI Diproyeksikan Berkontribusi Terhadap Ekonomi Digital RI US$ 365 Miliar (Oktober 2026)
  • Kemenko Perekonomian (ekon.go.id): Pemerintah Perkuat Kolaborasi Industri Pusat Data untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital (Oktober 2026)
aibisnisteknologi

Artikel terkait

← Kembali ke Blog
KANTOR & KONTAK

Mari terhubung dengan Navinity.

Ada topik di artikel ini yang relevan dengan bisnis Anda? Sampaikan tantangan Anda, dan kita cari titik awalnya bersama.

Hubungi kami ↗
Badan HukumPT. Ascend Aulia Indonesia
Kantor PusatRuko Grande Village Blok I No.17, Bojong Gede, Jawa Barat
Telepon / WhatsApp085188429721